selamat datang

selamat datang di blog las juliatun semoga bermanfaat

Minggu, 13 Maret 2011

strategi pembelajaran

PENDEKATAN STUDENT CENTERED LEARNING (SCL)

DALAM PEMBELAJARAN

Pendekatan pembelajaran adalah cara yang di tempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran berfungsi sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan oleh guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Ada banyak sekali pendekatan yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, di antaranya; pendekatan tingah laku( behavioristik), pendekatan konstruktivisme, dan pendekatan student centered learning (SCL). Tapi dalam resume ini kami hanya akan membahas satu pendekatan yaitu ; Pendekatan Student Centered Learning).

A. Pendekatan Student Centered Learning (SCL)

Pemikir seperti John Dewey, Jean Piaget, dan Lev Vygotsky (Wikipedia, 2006) yang karyanya terfokus pada bagaimana siswa belajar, bertanggung jawab atas gerak perubahan cara pembelajaran dari yang terpusat kepada guru menjadi terpusat kepada siswa, yaitu SCL. SCL berarti menempatkan siswa sebagai pusat dari kegiatan belajar. Pergerakan konsep tersebut didukung pula oleh penelitian mengenai bagaimana kerja otak manusia yang menyebutkan bahwa siswa belajar secara lebih baik dengan cara mengalami langsung dan mengontrol proses belajar tersebut (Wikipedia, 2006).

Menurut Hall (2006) yang dikutip dalam blog Exploration on Learning, SCL adalah tentang membantu siswa menemukan gaya belajarnya sendiri, memahami motivasi dan menguasai keterampilan belajar yang paling sesuai bagi mereka. Hal tersebut akan sangat berharga dan bermanfaat sepanjang hidup mereka.

Melaksanakan pendekatan SCL berarti guru perlu membantu siswa untuk menentukan tujuan yang dapat dicapai, mendorong siswa untuk dapat menilai hasil belajarnya sendiri, membantu mereka untuk bekerja sama dalam kelompok, dan memastikan agar mereka mengetahui bagaimana memanfaatkan semua sumber belajar yang tersedia. Pembelajaran lebih merupakan bentuk pengembangan diri secara keseluruhan dibandingkan kemajuan linier yang dicapai guru dengan cara pujian dan sanksi. Kesalahan dilihat sebagai bagian konstruktif dari proses belajar dan tidak perlu dilihat sebagai hal yang memalukan. Pendapat tersebut merupakan inti sari dari prinsip SCL yang muncul dalam berbagai definisi SCL yang beberapa di antaranya dikemukakan sebagai berikut:

“Student-centred learning or student-centered learning is an approach to education focusing on the needs of the students, rather than those of others involved in the educational process, such as teachers and administrators” (Wikipedia, 2006).

Lea, Stephenson, dan Troy (2003 dalam O’Neill & McMahon, 2005) mendefinisikan SCL secara lebih luas yaitu bahwa SCL mencakup :

ketergantungan terhadap belajar aktif, penekanan terhadap belajar secara mendalam, pemahaman, meningkatnya tanggungjawab di pihak siswa, meningkatnya perasaan otonomi pada pembelajar, saling ketergantungan antara guru dan siswa. SCL lebih merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang refleksif baik bagi pihak siswa maupun guru.

Dalam pendekatan SCL, pembelajar memiliki tanggung jawab penuh atas kegiatan belajarnya, terutama dalam bentuk keterlibatan aktif dan partisipasi siswa. Hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya adalah setara, yang tercermin dalam bentuk kerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mendorong perkembangan siswa, dan bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Keaktifan siswa telah dilibatkan sejak awal dalam bentuk disain belajar yang memperhitungkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar siswa yang telah didapatkan sebelumnya. Dari pengalaman praktek yang ada, diharapkan setelah mengalami pembelajaran dengan pendekatan SCL pembelajar akan melihat dirinya secara berbeda, dalam arti lebih memahami manfaat belajar, lebih dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, dan lebih percaya diri (O’Neill & McMahon, 2005).

Apabila dibandingkan antara Teacher Centered Learning (TCL) dan Student Centered Learning (SCL) maka hasilnya adalah sebagaimana tercantum pada Tabel berikut

Variabel

Instruksional

Pendekatan Instruksional

Teacher centered learning

Student centered learning

1

2

3

Hasil belajar

(Learning

outcomes)

• Informasi verbal yang secara

spesifik mengacu pada bidang

ilmu tertentu

• Tingkat keterampilan berpikir

rendah (mengingat, mengenal,

menjelaskan)

• Menghafalkan suatu fakta,

rumus, atau besaran yang abstrak

dan terpisah-pisah atau terkotak-

kotak

• Informasi dan pengetahuan

interdisiplin

• Tingkat ketrampilan berpikir

tinggi (problem solving)

• Keterampilan memproses

informasi (mengakses,

mengorganisasikan,

menginterpretasikan,

mengkomunikasikan

informasi)

1

2

3

Tujuan belajar

• Guru menentukan tujuan

instruksional

berdasarkan pengalaman,

praktek yang telah dilakukan, ataupun standar yang telah ditentukan menurut kurikulum negara yang berlaku

• Siswa bekerja bersama guru

untuk memilih

tujuan belajar berdasarkan

permasalahan yang dihadapi, hal-hal yang telah dipelajari dan dikuasai siswa sebelum-nya, ketertarikan, dan pengalaman sebelumnya.

Strategi belajar

• Strategi belajar ditentukan oleh

guru

• Didisain untuk kemajuan seluruh

kelompok dan berbasis pada

kemampuan rata-rata

• Informasi terutama diatur dan diberikan oleh guru, seperti kuliah, ditambah bahan bacaan

wajib, dan tugas.

• Guru berkerja sama dengan

siswa untuk menentukan strategi belajar

• Didisain untuk memenuhi

kecepatan dan kebutuhan

belajar mandiri setiap siswa

• Siswa diberikan akses

langsung ke berbagai sumber

informasi seperti buku, database online, sumber masyarakat.

Pengukuran

dan penilaian

• Pengukuran dilakukan untuk

mengelompokkan siswa

• Tes atau ujian diadakan untuk mengukur keberhasilan siswa menguasai informasi tertentu

• Guru menentukan kriteria keberhasilan untuk siswa

• Pengukuran adalah bagian integral dari proses belajar

• Pengukuran berbasis kinerja siswa digunakan untuk menilai kemampuan siswa

Mengaplikasikan pengetahuan- nya

1

2

3

Peran guru

• Guru mengatur dan mempresentasi kan informasi kepada siswa

• Guru berperan sebagai penjaga ilmu pengetahuan dan mengontrol pilihan siswa atas bahan belajar

• Guru memimpin proses belajar

• Guru menyediakan berbagai cara untuk mengakses informasi

• Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk mendapatkan dan memproses informasi

• Guru memfasilitasi proses belajar

Peran siswa

• Siswa mengharapkan guru untuk mengajar mereka sehingga dapat lulus ujian

• Siswa berperan pasif sebagai penerima informasi

• Siswa merekonstruksi pengetahuan dan informasi

• Siswa bertanggung jawab terhadap proses belajar

• Siswa berperan aktif dalam mencaripengetahuan

• Siswa mengkonstruksi pengetahuan dan makna

Lingkungan

belajar

• Siswa duduk berjajar dalam format kelas

• Informasi dipresentasikan melalui kuliah, buku, dan media lain

• Siswa belajar di suatu tempat dengan akses penuh kepada sumber belajar

• Siswa lebih banyak bekerja secara mandiri dan pada waktu tertentu bekerjasama secara kelompok kecil

Sumber: Diadaptasi dari Hirumi, (2005)

Contoh Metode Pembelajaran SCL

Di luar kelas

Di dalam kelas

Tugas mandiri

Diskusi kelompok kecil (antara dua siswa )

Diskusi kelompok

Diskusi dalam kelompok besar

Mentoring dengan siswa lain

Mengelompokkan siswa

Debat/ diskusi

Memberi kesempatan berbicara secara bergiliran

Studi lapangan

Kuis

Praktek, praktikum

Menulis refleksi dalam belajar

Jurnal kegiatan belajar

Presentasi di dalam kelas

Computer Assissted Learning (CAL)

Bermain peran

Menulis dan menelaah makalah

Presentasi poster

Mengembangkan portofolio

Siswa memproduksi mind map dalam kelas

Sumber: Diadaptasi dari O’Neill dan McMahon, (2005)

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

1. Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Nurhadi (2004:56) bahwa pengajaran berbasis masalah (problem-based learning) adalah “suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran”. Dalam hal ini, inti pembelajaran berbasis masalah adalah menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Pendapat Moffit (dalam Umaedi, 2002:12) dalam pembelajaran berbais masalah, siswa terlibat aktif dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran, mensintesa, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.

“Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran yang ciri utamanya meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, dan menghasilkan karya atau hasil peraga” (Ismail,2002;2).

Arends (Nurhayati Abbas, 2000: 12) menyatakan bahwa model

pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan

pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun

pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan

inquiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri. Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Pendekatan pembelajaran ini mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam tingkat berpikir lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar (Nurhayati Abbas, 2000:12).

Asumsi utama dalam pembelajaran berbasis masalah yaitu bahwa permasalahan dijadikan sebagai pemandu, sebagai kesatuan dan alat evaluasi, sebagai contoh, dan sebagai sarana untuk melatih siswa.Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) terdiri dari lima tahapan yang dimulai dari guru menghadirkan suatu masalah nyata dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Tahap Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap

Tingkah laku Guru

Tahap – 1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Tahap – 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap – 3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap – 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap – 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

(Sumber: Nurhadi, 2004:60)

METODE CERAMAH DAN DEMONSTRASI

A. Metode Ceramah (Preaching Method)

Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.

B. Situasi di bawah ini sesuai untuk penggunaan metode ceramah:

Kalau guru akan menyampaikan fakta atau pendapat dimana tidak terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta yang dimaksud. Sebagai contob: di suatu kelas SMP, guru mengajarkan Sejarah terbentuknya candi Borobudur. Di perpustakaan sekolah tidak tersedia bukti yang menggambarkan sejarah candi tersebut. Maka tepatlah bila guru memberikan penjelasan dengan metode ceramah.

C. Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :

n Guru mudah menguasai kelas.

n Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar

n Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.

n Mudah mengorganisasikan tempat duduk di kelas

n Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya

n Guru/dosen mudah menerangkan pelajaran dengan baik

D. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :

n Membuat siswa pasif

n Mengandung unsur paksaan kepada siswa

n Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)

n Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya

n Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.

n Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).

n Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

E. Tipe belajar/menangakap pesan

n Visual à melihat

n Auditif à mendengar

n Motorik à benda gerak

n Taktil à rabaan

F. Metode demontrasi (Demonstration method )

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).


Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).

Menurut sumiati (2008 : 101). Metode pembelajaran demonstrasi merupakan pertunjukan atau peragaan. Dalam metode pembelajaran demonstrasi dilakukan pertunjukan sesuai proses, berkenaan dengan materi pelajaran. Hal ini juga dapat dilakuakan oleh dosen / guru atau orang luar yang di undang ke kelas dan proses yang didemonstrasikan di ambil dari obyek yang sebenarnya.

Langkah-langkah dalam melakukan demonstrasi adalah:

1) Langkah Umum

(a) Merumuskan tujuan yang jelas tentang kemampuan apa yang akan dicapai

mahasiswa

(b) Mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan

(c) Memeriksa apakah semua peralatan itu dalam keadaan berfungsi atau tidak

(d) Menetapkan langkah pelaksanaan agar efisien

(e) Memperhitungkan/menetapkan alokasi waktu

2) Langkah Demonstrasi

(a) Mengatur tata ruang yang memungkinkan seluruh mahasiswa dapat

memperhatikan pelaksanaan demonstrasi

(b) Menetapkan kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan, seperti:

(1) Apakah perlu memberikan penjelasan panjang lebar sehingga mahasiswa

dapat memperoleh pemahaman luas

(2) Apakah mahasiswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan

(3) Apakah mahasiswa diharuskan membuat catatan tertentu

3) Langkah Eksperimen

(a) Memberikan penjelasan secukupnya tentang apa yang harus dilakukan dalam

eksperimen

(b) Membicarakan dengan mahasiswa tentang langkah yang ditempuh, materi

pelajaran yang diperlukan, variable yang perlu diamati dan hal yang pelu dicatat

(c) Menentukan langkah-langkah pokok dalam membantu mahasiswa selama

eksperimen

(d) Menetapkan apa follow-up (tindak lanjut) eksperimen

G. Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :

n Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .

n Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.

n Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985)

H. Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :

n Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.

n Memudahkan berbagai jenis penjelasan .

n Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya.

I. Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :

n Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.

n Tidak semua benda dapat didemonstrasikan

n Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.

Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar